Featured post

Sebenarnya ada beberapa masalah sosial yang terjadi di lingkungan

“Sebenarnya ada beberapa masalah sosial yang terjadi di lingkungan dan ada beberapa hal yang hilang yang membuat saya merasa memiliki ‘peker...

Search This Blog

slider

Wednesday, June 5, 2024

Sebenarnya ada beberapa masalah sosial yang terjadi di lingkungan

“Sebenarnya ada beberapa masalah sosial yang terjadi di lingkungan dan ada beberapa hal yang hilang yang membuat saya merasa memiliki ‘pekerjaan rumah’ untuk melakukan sesuatu,” kata Usulina Epa menceritakan alasan utama ia merintis usaha.

Masalah yang paling kelihatan itu menurutnya adalah masalah tanah di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Di sepanjang Waena (Kota Jayapura) secara khusus, juga di Sentani, tanah masyarakat adat semakin hilang dan dikuasai oleh non-OAP.

“Masalah lainnya, karena tidak kelihatan usaha milik orang Papua di pinggiran jalan-jalan utama, ada kesedihan yang saya rasakan dalam hati mengenai hal itu,” ujarnya.

Dalam pikirannya muncul pertanyaan kenapa Orang Asli Papua yang dulunya punya tanah di sepanjang jalan utama itu malah tersingkir, terpinggirkan, dan tidak kelihatan. “Tidak terwakili ada usaha OAP di pinggir jalan utama,” katanya.

Pada 2014 orang tuanya membangun empat petak ruko dan menjadikan usaha kios dan rumah makan. Orang tuanya selalu mempekerjakan orang lain dan modalnya tidak kembali. Ketika Usulina Epa kembali pada 2014, sambil mengajar di Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), ia menjalankan kios tersebut.

Pada 2016 ia juga membuka usaha penjualan tiket di petak ruko di sebelahnya. Dari keuntungan dua usaha itu, kios dan penjualan tiket, ia mendapatkan modal awal untuk mendirikan kafe “Sundshine Cafe dan Library”.

“Kita sempat sekali lagi buka warung ‘Dapur Mama’ dan mencoba menjual makanan lokal, seperti yang sekarang saya coba lakukan di Cafe Isasai dan hanya bertahan satu bulan saja,” ujarnya.

Kemudian ia membuka lagi warung lainnya dan mempekerjaan Non-OAP. Tapi usaha itu hanya bertahan satu tahun, gagal karena pengelolaan yang salah.

“Dua usaha yang saya pegang secara langsung itu tempat penjualan tiket dan kios, tsedangkan warung dikerjakan orang lain dan saya hanya mengawasi,” ujarnya.

Setelah ada modal, ia merenovasi rumah makan yang gagal itu dengan mengubah interiornya untuk dijadikan kafe. Pada Mei 2017 ia membuka kafe Sundshine Café and Library di sana.

“Jadi Sundshine Café and Library yang akan berusia tujuh tahun ini kita bangun di atas puing-puing kegagalan, baik dari orang tua maupun saya sendiri,” ujarnya.

Dari pengalaman itu, Usulina Epa menyimpulkan bahwa solusi dari membangun usaha yang berkelanjutan ada pada diri sendiri.

“Bahwa kita harus punya ilmunya, kita harus terjun sendiri, mau main kotorlah istilahnya, mau bayar harga, mau capek, mau belajar,” ujarnya.

Banyak tantangan

Membuka usaha kafe juga tidak mudah bagi Epa. Banyak tantangan, terutama karena ia dan suaminya tidak tahu masak dan betul-“Sebenarnya ada beberapa masalah sosial yang terjadi di lingkungan dan ada beberapa hal yang hilang yang membuat saya merasa memiliki ‘pekerjaan rumah’ untuk melakukan sesuatu,” kata Usulina Epa menceritakan alasan utama ia merintis usaha.

Masalah yang paling kelihatan itu menurutnya adalah masalah tanah di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Di sepanjang Waena (Kota Jayapura) secara khusus, juga di Sentani, tanah masyarakat adat semakin hilang dan dikuasai oleh non-OAP.

“Masalah lainnya, karena tidak kelihatan usaha milik orang Papua di pinggiran jalan-jalan utama, ada kesedihan yang saya rasakan dalam hati mengenai hal itu,” ujarnya.

Dalam pikirannya muncul pertanyaan kenapa Orang Asli Papua yang dulunya punya tanah di sepanjang jalan utama itu malah tersingkir, terpinggirkan, dan tidak kelihatan. “Tidak terwakili ada usaha OAP di pinggir jalan utama,” katanya.

Pada 2014 orang tuanya membangun empat petak ruko dan menjadikan usaha kios dan rumah makan. Orang tuanya selalu mempekerjakan orang lain dan modalnya tidak kembali. Ketika Usulina Epa kembali pada 2014, sambil mengajar di Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), ia menjalankan kios tersebut.

Pada 2016 ia juga membuka usaha penjualan tiket di petak ruko di sebelahnya. Dari keuntungan dua usaha itu, kios dan penjualan tiket, ia mendapatkan modal awal untuk mendirikan kafe “Sundshine Cafe dan Library”.

“Kita sempat sekali lagi buka warung ‘Dapur Mama’ dan mencoba menjual makanan lokal, seperti yang sekarang saya coba lakukan di Cafe Isasai dan hanya bertahan satu bulan saja,” ujarnya.

Kemudian ia membuka lagi warung lainnya dan mempekerjaan Non-OAP. Tapi usaha itu hanya bertahan satu tahun, gagal karena pengelolaan yang salah.

“Dua usaha yang saya pegang secara langsung itu tempat penjualan tiket dan kios, tsedangkan warung dikerjakan orang lain dan saya hanya mengawasi,” ujarnya.

Setelah ada modal, ia merenovasi rumah makan yang gagal itu dengan mengubah interiornya untuk dijadikan kafe. Pada Mei 2017 ia membuka kafe Sundshine Café and Library di sana.

“Jadi Sundshine Café and Library yang akan berusia tujuh tahun ini kita bangun di atas puing-puing kegagalan, baik dari orang tua maupun saya sendiri,” ujarnya.

Dari pengalaman itu, Usulina Epa menyimpulkan bahwa solusi dari membangun usaha yang berkelanjutan ada pada diri sendiri.

“Bahwa kita harus punya ilmunya, kita harus terjun sendiri, mau main kotorlah istilahnya, mau bayar harga, mau capek, mau belajar,” ujarnya.

Banyak tantangan

Membuka usaha kafe juga tidak mudah bagi Epa. Banyak tantangan, terutama karena
betul terbatas dalam pengetahun tentang bisnis. Namun dorongan semangat agar OAP harus ada yang memiliki usaha di jalan utama sangat besar. Kemudian jika pengelolaan diserahkan ke orang lain, tanggung jawabnya juga berbeda jika dikelola sendiri.

“Memulainya penuh dengan segala keterbatasan. Suami saya sendiri buat kursi, meja, dan lain-lain. Jadi kalau para pelanggan awal Sundshine Café and Library tahu interior awal itu semua dibuat sendiri sama kita,” katanya.

Sejak itu ia belajar menjalankan usaha kafe. Belajar memahami sistem manajemen dalam berusaha, baik manajemen keuangan maupun manajemen stok barang dan manajemen pegawai.

Sesuai impian awal, ia juga mempromosikan apa yang menjadi milik orang Papua, salah satunya makanan khas Papua. Ia memulai dengan membuat menu sinole, kemudian menu lainnya.

“Konsep cafe ini adalah cafe dan library. Juga kami pakai bahan daur ulang untuk penataan interior kafe. Terus dari awal kita juga berkomitmen untuk mempekerjakan anak-anak Papua yang berangkat dari pemikiran awal tadi, usaha OAP harus tampil di pinggiran jalan utama,” ujarnya.

Hal lainnya, Epa melihat salah satu adalah tidak ada kesempatan yang diberikan kepada anak-anak Papua untuk belajar dan memiliki kepercayaan diri untuk tampil. Karena itu sejak dibuka sampai sekarang 100 persen pekerjanya adalah anak-anak Papua.

Setelah membuat menu sinole, ternyata kemudian banyak permintaan dari pelanggan untuk menu makanan khas Papua lainnya, seperti sayur genemo lilin santan, keladi tumbuk, dan lain-lain.

Pada 2020, setelah Sundshine Café and Library berusia lima tahun, maka dibuka cabang, yaitu Cafe Isasai di Expo. Epa membangun bangunannya bersama orang tuanya. Ia melengkapi Café Isasai dengan modal yang terkumpul dari Sundshine.

Cafe Isasai dibuat 100 persen ingin memperkenalkan makanan khas Papua. Epa ingin memulai dari makanan khas sendiri, yaitu makanan khas Sentani.

Gggg“Karena kita lihat situasi Sentani dan Jayapura saat ini yang berada di tengah-tengah pembangunan dan sayangnya ciri khas dan jati diri kita malah terpinggirkan, seolah-olah kita tidak punya jati diri dan identitas, tidak punya makanan khas,” katanya.

Dalam perkembangnya, lanjut Epa, makanan khas Sentani itu sudah hilang dari pasaran, seperti ikan gabus asar sudah tidak dijual di pasar. Menurutnya menu masakan yang hilang itu adalah ikan gabus santan dan ikan gabus kuah hitam.

Dengan usaha kafe itu, Epa juga ingin membantu OAP lainnya yang berkebun dan menjual hasil kebun mereka. Sebab saat ini daya beli pangan lokal di pasaran kurang.

“Kita juga perlu meningkatkan permintaan bahan pangan lokal untuk bantu Mama-Mama mereka di pasar,” ujarnya. (*)

Sunday, May 26, 2024

Dr Ibrahim Peyon: Teori Evolusi Barat tentang Migrasi Harus Diluruskan

Selama mengasuh kuliah teori antropologi, dan setelah baca buku-buku antropologi tentang teori evolusi, migrasi dan difusi muncul jiwa pemberontakan dalam diri saya, bahwa teori evolusi ala Barat /modern ini tidak bisa diterima sepenuhnya. Karena ada alasan-alasan mendasar, beberapa diantara sebagai berikut: 

Pertama, bukti-bukti yang mereka ajukan tidak konsisten dan selalu berubah-ubah limit waktu yang ditentukan sesuai dengan penemuan materi baru. 

Kedua, dalam etnografi yang digambarkan jelas, tetapi kesimpulan yang diambil selalu dibelokan.
 
Ketiga, teori migrasi yang dibangun ke Pasifik dan Australia mengikuti jalur yang pernah di lewati oleh kolonial Eropa demi kepentingan kolonialisme mereka, maka ini dinilai sebagai teori pembenaran kolonialisme itu.

Keempat, teori Birdsell tentang Trihibrid tiga gelombang migrasi dari Sundaland ke Sahuland tidak terbukti secara materi baik, materi arkeologi maupun hubungan genetik, karena itu banyak antropolog tolak teori ini. Terbaru studi genetik tahun 2022 yang melibatkan banyak ahli dari berbagai universitas dengan sampel dari Asia, New Guinea dan Aborigin Australia, menemukan tidak ada hubungan genetik antara Asia dengan Aborigin dan Papua. Aborigin dan Papua konsisten 90-100 persen independent, tidak terhubung dengan Asia. Dalam studi ini meninyimpulkan bahwa tidak terjadi gelombong migrasi satu, dua dan tiga seperti disebutkan dalam teori Trihibrid selama ini mengenai gelombang migrasi ras Oseanik Negritos dari Andama, Malasya dan Filipina, ras Carpertarians dari India dan ras Murrayan dari Ainu di Jepang. Penelitian terbaru ini menyatakan, orang Aborigin dan Melanesia menempati wilayah mereka hanya sekali, sejak mereka ada di Benua Sahul. 

Kelima, tahun 2009 ada homo baru ditemukan di Siberia, 5% genetik homo ini ditemukan diantara penduduk yang mendiami di pulau-pulau pantai utara New Guinea, tapi di tanah besar New Guinea tidak ditemukan hubungan genetik dengan Homo ini. Hal ini masuk akal karena proses migrasi penutur Austronesia dan kompleks budaya Lapita di wilayah tersebut terjadi sejak 3.000 tahun lalu. 

Tetapi, yang paling penting adalah ada penemuan homo baru tahun 2016 sebagai leluhur orang Melanesia. Penemuan genetik dari Homo ini menbuktikan bahwa orang Melansia dari Fiji ke Raja Ampat berasal dari genetik homo ini, dan homo tersebut tidak ada hubungan dengan homo mana pun. 
 
Selama tiga tahun lebih, saya meneliti sejarah penciptaan dan persebaran orang Papua dan Aborigin di Australia melalui berbagai referensi dan cerita masyarakat asli. Saya merasa terheran-heran, karena semua cerita ini memiliki suatu kesamaan, bahwa leluhur orang Papua dan penduduk asli Australia itu berasal dari Pulau New Guinea. Oleh karena itu, orang Aborigin sebut New Guinea "Muggi Dowdai” atau Negeri Besar, meskipun secara realita Australia Benua besar. Tetapi, yang dlihat bukanlah ukuran benua, melainkan sejarah asal usul manusia.

Saya baca buku-buku etnografi orang pegunungan di PNG dari suku kelompok Min, Telefomen, Oksapmin, Hewa, Duna, Yogoya, Hela, Enga dan Melpa, mereka menyatakan leluhur mereka berasal dari sebelah barat New Guinea, saya juga baca buku-buku etnografi dari suku-suku di sebelah barat dataran tinggi New Guinea, mereka bilang leluhur mereka datang dari arah timur. 

Semua menunjuk di bagian tengah dataran tinggi New Guinea, ini berbeda dengan sejarah di kepala burung dan pulau-pulau yang saya baca. Tetapi, di Pulau Biak misalnya ditemukan ada kesamaan, karena leluhur orang Biak sepasang suami-istri itu datang dari timur dan terdampar di sebuah bukit di Biak Utara. Meskipun Biak secara linguistik penutur bahasa Austronesia. 

Setelah saya baca ini, saya ingat kembali dalam suatu seminar yang diadakan oleh DAP dan DPRP di Grand Hotel padang Bulan, dimana saya menjadi salah satu pemateri bahwa beberapa peserta dari pantai selatan khusus Asmat dan beberapa dari pantai Utara mengatakan bahwa leluhur mereka turun dari gunung. Kisah ini sama dengan buku etnografi yang saya baca tentang orang Waropen, sebagian klen mereka turun dari pedalaman. Selain itu, saya juga menemukan banyak klen yang sama tersebar di banyak suku yang secara geografis perjauhan, seperti klen Giay di Paniai dan Genyem, Kambu di Ayamaru dan Sentani, klen Sama di Yalimu, suku Mek, Boven Digul dan Bade di suku Yaghai, klen Wenda/Wonda di suku Lani dan Wanda di Serui/Wandamen, klen Malo di Pegununggan Bintang dan di Genyem, dll. Meskipun, kadang berbeda dengan sejarah penciptaan dari tiap suku yang ada, tetapi menurut saya perbedaan itu sebagai proses evolusi, adaptasi alam, dan proses akulturasi.  

Berdasarkan itu, kesimpulan sementara saya bahwa leluhur orang Papua itu pertama kali muncul di salah satu tempat di dataran tinggi New Guinea kemudian tersebar ke seluruh Melanesia, Australia, Polinesia dan Mikronesia, termasuk ke Maluku dan Timor, khusus penduduk yang berbicara bahasa Papua seperti di Alor dan 10 etnik penutur bahasa Papua di Halmahera Utara. Saya sebut Polinesia dan Mikronesia, karena hampir semua buku etnografi yang saya baca tentang etnik dan ras di Polinesia dan Mikronesia mengatakan banyak materi ditemukan di wilayah itu adalah fosil orang Papua. Sebelum leluhur Polinesia dan Mikronesia saat ini, wilayah itu telah dihuni orang Melanesia. Di pulau utara Selandia Baru misalnya, penemuan tengkorak 46 % yang berusia 40.000 tahun adalah tengkorak orang kulit hitam.   

Berdasarkan studi literatur selama tiga tahun lebih ini, kesimpulan sementara, saya digambarkan dalam Gambar di bawah ini. Bila ada yang ingin berdebat silahkan.

Mengapa digambarkan demikian? Teori evolusi belum selesai, para ahli masih berdebat teori monogenesis dan Poligenesis, ada penemuan Hominit yang berbeda di wilayah yang berbeda, teori migrasi lebih banyak dihubungkan di pesisir dan pulau, tetapi populasi asli di berbagai pulau dan benua konsisten mendiami pedalaman, banyak fosil yang ditemukan dari pesisir, tetapi belum banyak ditemukan di pedalaman.

Maka kesimpulan limit waktu yang ditentukan oleh ahli arkeologi adalah penemuan fosil dan materi dari pesisir pantai, yang baru terjadi beberapa ribu tahun lalu. Ini juga kita bisa dihubungkan jauh ke belakang di masa klasial, pemisahkan pulau satu dengan lain dari benua pangea akibat pencairan es, dan penghuni di pulau-pulau itu, ada arus migrasi di pesisir dan ada pemukim asli tetap di pedalaman. Teori ini, kita di Melanesia jelas ada migrasi penutur Austronesia dan proto Melanesia sebagai penduduk asli, ada percampuran di pulau-pulau pantai utara, Polinesia, Mikronesia termasuk Maluku antara penutur bahasa Papua dan Austronesia.

Thursday, May 23, 2024

10 SIGNS THAT YOU ARE TOO EMOTIONAL

1. You just can't say 'no' to anyone without feeling guilty. You care too much and love too much.

2. You cry when you're alone but you don't tell anyone because you're afraid of what people would think of you.

3. You're quick to think that everyone is a friend. You do things for every temporary person in your life .

4. You're extra- nice with people. You treat everyone with kindness and expect the same.

5. You don't know when a person is taking advantage of you because you can't do it to others.

6. You can't intentionally hurt people because of how soft hearted you are.

7. You can't express your emotions without breaking down.

8. You're so sensitive that you can notice the slightest changes in people's behavior towards you- the way they talk to you, the way they act towards you - but you don't Do anything about it.

9. You feel too deeply for people, you always put yourself in people's shoes and try to be there for everyone, Literally, Every single time.

10. You're the problem fixer. You can't afford to lose people , but in the end, you're still left alone. Just like always...

Please Be guided accordingly.

How To Avoid Being Manipulated: A Guide to Resist Hypnosis and Brainwashing

10 Powerful lessons from the book “How To Avoid Being Manipulated: A Guide to Resist Hypnosis and Brainwashing” by Nancy Noble. This book teaches how anyone can empower themselves with awareness and critical thinking. It further teaches how to recognize manipulation tactics, question information, and trust your instincts. Here are some lessons I will like to share with you from this book:

1. Develop Critical Thinking: Strengthen your ability to analyze information critically, questioning motives and seeking evidence before accepting or acting upon any proposition.

2. Know Your Values: Establish firm values and principles to serve as a compass; manipulation often targets vulnerabilities, but clarity in values provides resilience.

3. Set Boundaries: Clearly define personal boundaries to protect against manipulation; assertive communication reinforces your limits and discourages manipulative tactics.

4. Understand Persuasion Tactics: Familiarize yourself with common persuasion techniques; awareness empowers you to recognize and resist attempts to manipulate your thoughts or actions.

5. Trust Instincts: Trust your instincts; if something feels off or manipulative, take a step back and reassess the situation, allowing intuition to guide your decisions.

6. Educate Yourself: Learn about manipulation tactics and psychological strategies; knowledge is a powerful defense against attempts to exploit your vulnerabilities.

7. Seek Diverse Perspectives: Broaden your perspective by seeking input from various sources; diverse viewpoints help prevent tunnel vision and susceptibility to manipulation.

8. Practice Emotional Regulation: Develop emotional resilience to maintain composure; manipulators may exploit emotional reactions, but self-control strengthens your defenses.

9. Verify Information: Fact-check information before accepting it; manipulation often relies on misinformation, and verifying details protects you from being misled or controlled.

10. Cultivate Independence: Foster self-reliance and independence; a strong sense of autonomy makes you less susceptible to manipulation, as you base decisions on your own judgment.

Bonus lesson: Nancy Noble further teaches how to build mental resilience through education, self-reflection, and maintaining autonomy. Navigate relationships and media with clarity and confidence. This book provides practice strategies, exercises and real-life examples to help you to avoid being Manipulated by anyone

Thanks for reading.

Book: https://amzn.to/3yvBfpk

TRUTHS ABOUT BEING A MAN


1. You can be a great man even if you grew up without a father or a good relationship with your father 

2. Your worth as a man is not determined by the money you have but your character 

3. There is always a younger man watching you and how you carry yourself. Be a good example 

4. Wisdom doesn't come with age, but by you fearing God and seeking wisdom

5. Ego is the man's greatest enemy. Once a man has self-control over his ego he is ready for greatness 

6. Men have emotions too. Be responsible with your emotions and you will be responsible with the emotions of others 

7. The earlier a man finds his vision and purpose in life the better for him

8. A man who seeks to grow marries a woman who challenges him and grows with him

9. A grown man not only expects respect, he also respects others

BE A REAL MAN TODAY

GOD BLESS YOU